G u b u g S e n i
Klik Info Buku Kontak Klik Juga Gapura Kampung
Banyak orang
mendefinisikan ilham dan juga inspirasi. Sebagian orang menyebut ilham sebagai
inspirasi, sebagian yang lain membedakannya. Baiklah, kita tak perlu
memperdebatkannya. Sekarang kita buat saja suatu penyederhanaan seperti di bawah
ini.
Ilham
adalah sesuatu hal. Sesuatu hal itu bisa berupa benda, kejadian,
kenyataan, pengetahuan, maupun pengalaman, dan masih banyak lagi jika
kita mau menyebutkan. Terlalu sederhana? Tunggu dulu. Masih ada kelanjutannya.
Contohnya begini: Topi adalah benda. Bagi semua orang topi adalah penutup kepala
/ rambut. Namun bagi seorang pengarang, topi ini bisa menggugah batin dan
pikirannya untuk membuat sebuah cerita. Topi bagi pengarang bisa berarti
kehormatan; sebagai barang yang selalu diperebutkan raja-raja (mahkota). Nah,
peristiwa tergugahnya batin dan pikiran pengarang ini kita sebut sebagai
inspirasi. Sementara topi yang telah menggugah batin dan pikiran pengarang itu
kita sebut sebagai ilham.
Dengan begitu, ilham adalah sesuatu hal yang
diamati pengarang dengan sisi pandang yang berbeda. Hujan, pohon cemara, awan,
kelaparan, pembunuhan, pesta, cinta, marah… bisa menjadi ilham bagi seorang
pengarang, bisa membuat seorang pengarang dalam kondisi ter-inspirasi.
Lantas
apa itu imajinasi? Imajinasi adalah sesuatu yang bersifat khayali atau tidak
nyata yang terbentuk dalam pikiran manusia. Imajinasi ini adalah suatu daya,
suatu kekuatan yang dimiliki manusia. Bisa berupa lamunan, angan-angan,
pengandaian, keinginan, dan bahkan cita-cita pun termasuk ke dalam imajinasi.
Imajinasi ini amat dekat hubungannya dengan ilham dan inspirasi. Ketiganya
saling mendukung.
Imajinasi
kita bedakan jadi dua macam:
[1].
Imajinasi-realitas. Adalah imajinasi yang masih ‘mem-bumi’, masuk akal, dan
berpotensi menjadi kenyataan. Contoh: Kita duduk bersandar pada batang pohon
besar. Lalu kita membayangkan seandainya dahan pohon besar di atas kita patah
dan menimpa kepala kita. Meskipun bertahun-tahun sudah kita duduk di bawah pohon
itu dan tak pernah tertimpa dahannya, namun patahnya dahan pohon adalah wajar;
mungkin karena angin, atau karena dahan sudah lapuk.
[2]. Imajinasi-fantasi.
Adalah imajinasi yang ‘meng-awan’, tak masuk akal, dan tak berpotensi
menjadi kenyataan. Contoh: Kita duduk bersandar pada batang pohon besar. Lalu
kita membayangkan seandainya batang pohon tempat punggung kita bersandar
tiba-tiba menghilang entah kemana, dan kita terjengkang karenanya.
Kedua
macam imajinasi di atas bisa kita gunakan untuk mengarang cerita. Jika kita jeli
menghadapi ilham, tak menolak inspirasi, pintar merangkai cerita, dan mahir
menggunakan bahasa, maka sebuah cerita yang menarik dan mengesankan tentu dapat
kita lahirkan.
◙
Tema adalah ide dasar suatu karangan. Tema ini
muncul bersamaan dengan inspirasi. Sadar atau tidak sadar, pengarang telah
memiliki ‘tema’ sejak batin dan pikirannya dikuasai ilham. Misalnya begini:
ketika sebuah topi menjadi ilham bagi pengarang, pada saat itu juga dalam batin
dan pikiran pengarang tergugah untuk mengarang cerita tentang topi yang menjadi
simbol kehormatan dan harga diri bagi seseorang. Nah, topi sebagai simbol
kehormatan inilah yang menjadi tema bagi karangan tersebut.
Kemudian, bagaimana peran
imajinasi terhadap ‘ilham’ dan ‘inspirasi’ serta ‘tema’? Sebetulnya,
ketika pengarang sampai pada kesimpulan bahwa topi menjadi simbol kehormatan ia
sudah ber-imajinasi. Tetapi imajinasi yang paling awal. Dan pengarang tak
mungkin bisa mengarang cerita bila hanya sampai pada imajinasi awal tadi.
Maka
langkah selanjutnya adalah pengarang meng-otak-atik
imajinasi awal tadi. Pengarang harus terus mencari segala kemungkinan tentang
topi sebagai simbol kehormatan. Tentu saja, kemungkinan-kemungkinan itu berupa
jalan cerita. Setelah melewati banyak pertimbangan, dari beberapa kemungkinan
yang muncul, pengarang akhirnya memutuskan memilih sebuah jalan cerita yang
sesuai dengan tema.
Contoh:
Dua orang lelaki muda bertengkar. Arma dan Rama. Arma duduk di sudut meja,
menahan marah. Topi ia lepas dari kepala, dan ditaruh di atas meja, di samping
asbak. Arma mengelap dahinya yang berkeringat. Terus mencoba bersabar. Rama yang
sengaja memancing amarah Arma jadi makin tak sabar. Ia menyambar topi Arma,
membanting ke lantai, dan menginjak-injak topi. Pada saat itulah Arma dengan
geram melemparkan asbak.
Contoh
di atas sudah sesuai dengan tema, tapi belum bisa dikatakan sebagai jalan cerita
yang utuh. Contoh di atas disebut dasar plot. Maka, pengarang harus
mengembangkannya menjadi plot; jalan cerita yang utuh dan sesuai dengan tema.
Dalam ‘Mengarang (Teknik Awal)’ ini kita coba kupas-bahas plot dalam artian main-plot,
atau plot utama. Sementara sub-plot
atau plot tambahan akan kita temukan pada ‘Mengarang (Teknik Lanjutan)’.
Membicarakan plot tentu tak bisa menanggalkan
apa yang kita sebut sebagai alur. Plot tidak ada dalam wilayah teknik. Seperti
halnya tema, plot itu lebih pada jiwa atau isi karangan fiksi dengan bentuk
sebagai kejadian-kejadian yang ada dalam karangan fiksi. Sementara alur berada
pada wilayah teknik mengarang. Tapi pada proses selanjutnya, dalam
karang-mengarang, hal-hal teknis selalu bercampur-ramu dengan non teknis.
Pembahasan untuk bagian-bagian plot ada dalam
bab ini, sementara untuk pembahasan gaya plot ada pada bab GAYA.
Plot
yang paling sederhana adalah:
[1]. Prolog.
[2]. Klimaks.
[3]. Epilog.
Tak sedikit pengarang yang mulai mengerjakan
karangannya justru dari bagian tengah, yakni ketika cerita mencapai klimaks;
ketika cerita mencapai pokok persoalannya, ketika tokoh-tokoh di dalamnya
terlibat konflik. Mengapa demikian? Karena banyak pula pengarang yang mendapat
ilham cerita dari sebuah kejadian. Setelah menyelesaikan klimaks, pengarang baru
memulai menggarap bagian prolog: asal mula atau benih-benih konflik (klimaks),
dan mengerjakan bagian akhir karangan, yakni epilog: berakhirnya jalan cerita
oleh sebab berakhirnya klimaks.
Akan
tetapi, meskipun pengerjaannya terpisah, umumnya pengarang sudah membayangkan
dasar plot dari awal hingga akhir cerita. Karena sebuah karangan itu ibarat
rangkaian gerbong kereta api. Adalah susunan sebab-akibat, yang satu dengan yang
lainnya tak bisa dipisahkan.
Lantas,
apakah susunan sebab-akibat itu mesti diceritakan runtut dari awal hingga akhir?
Tidak mesti begitu. Untuk tujuan-tujuan tertentu pengarang menempatkan bagian
klimaks justru di bagian pertama dalam karangannya, lalu menyusul bagian prolog,
barulah epilog sebagai penutup. Banyak juga pengarang yang tiba-tiba memulai
karangan pada bagian epilog, lalu klimaks, dan ditutup oleh bagian prolog. Semua
itu memiliki tujuan-tujuan tertentu
Penempatan atau penyusunan bagian-bagian dari
karangan yang berupa prolog-klimaks-epilog itu disebut teknik alur. Disebut
teknik alur karena ini berhubungan dengan cara pengarang menyajikan “rentetan
cerita yang kemudian menjadi lengkap-memanjang” pada pembaca.
Pembicaraan tentang alur ini sejatinya lebih
condong pada teknik dalam mengarang. Dalam karang-mengarang, kita mengenal
beberapa macam (teknik) alur:
[1]. Alur maju; berupa
penempatan prolog-klimaks-epilog.
[2]. Alur mundur; berupa
penempatan epilog-klimaks-prolog.
[3]. Alur campuran dari
alur maju dan alur mundur; berupa penempatan klimaks-prolog-epilog,
prolog-epilog-klimaks, dst.
[4]. Alur insert; berupa
alur maju atau alur mundur atau alur campuran yang pada tiap bagian mendapat
sisipan sebuah atau lebih potongan dari prolog, klimaks, atau epilog.
Dari
tiga bagian susunan plot tersebut, baik prolog, klimaks, ataupun epilog terdiri
dari bagian-bagian atau potongan-potongan yang lebih kecil lagi. Kita
menyebutnya sebagai adegan. Istilah adegan sering kita dengar dalam dunia film
atau drama panggung. Tetapi istilah ini pun dapat kita gunakan pada dunia
karangan fiksi karena sifat dan hakikatnya yang sama.
Adegan adalah kejadian
dalam karangan fiksi yang didalamnya terdapat laku dan atau tutur dari
tokoh-tokoh cerita, yang terbingkai dalam satu seting waktu dan seting tempat.
Dalam dunia karang-mengarang fiksi, segala
kemungkinan bisa terjadi. Sebuah klimaks bisa saja hanya terdiri dari satu
adegan, tapi bisa pula terdiri dari puluhan adegan. Contoh dasar plot di atas
tadi menunjukkan pada kita bahwa bagian klimaks hanya terdiri dari satu adegan.
◙
TOKOH
CERITA, KARAKTER,
DAN
HUBUNGANNYA DENGAN KONFLIK
Tokoh cerita adalah seluruh pelaku yang ada
dalam karangan fiksi. Tokoh ini bisa berupa manusia, binatang, atau bahkan
benda-benda. Untuk bisa disebut tokoh cerita / pelaku, manusia atau benda-benda
dalam karangan fiksi haruslah terlibat secara langsung dengan cerita.
Contoh
: Monday, kucing yang tengah bunting itu, nangkring di atas kursi rotan teras
rumah Nyonya Rara. Matanya berkedip-kedip, terarah pada anak-anak sekolah yang
berjalan tergesa di seberang jalan. Sejurus kemudian Monday turun dari kursi
rotan, berjalan pelan hingga dua kaki depannya menginjak rumput halaman, saat di
depan pintu pagar Nyonya Rara menyorong teralis besi itu. Bersamaan dengan suara
besi menggesek tembok pagar, Nyonya Rara menyapa: “Monday, bagaimana kabar
calon anakmu?”
Contoh di atas merupakan penggalan dari sebuah
cerita, kita beri saja judul ‘Anak-Anak Monday’. Jika dilihat dari penggalan
itu kita bisa menentukan mana yang tokoh cerita dan yang bukan. Monday dan
Nyonya Rara menjadi tokoh cerita, sementara anak-anak sekolah bukanlah tokoh
cerita.
Dalam
sebuah karangan fiksi, tokoh-tokoh cerita atau pelaku harus memiliki karakter
yang jelas dan logis. Karakter adalah sifat dasar yang dimiliki oleh tokoh dalam
cerita atau pelaku. Karakter-karakter dari tokoh-tokoh cerita inilah yang
nantinya akan mendorong munculnya konflik. Dalam karangan fiksi kita mengenal
tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh protagonis mewakili karakter tokoh
yang baik, sementara tokoh antagonis mewakili karakter tokoh yang jahat.
Di
awal-awal sejarah kesusastraan modern Indonesia, dalam karangannya di masa itu
pengarang selalu membuat tokoh protagonis berhadapan dengan tokoh antagonis.
Tokoh protagonis ini bisa memiliki karakter super-putih, tak ada cela dan cacat
sedikit pun. Begitu juga dengan tokoh antagonisnya; pengarang masa itu
menggambarkannya sebagai tokoh yang super-hitam, bahkan tak hanya sifat dan
kelakuannya tapi juga dari sisi fisiknya.
Di masa kesusastraan mutakhir kini, model
karangan yang ‘hitam-putih’ tersebut lenyap. Karena tak ada seorang pun yang
tak memiliki cacat, dan ada sisi gelap dalam hidup seseorang yang baik. Begitu
pula sebaliknya.
Salah satu hal yang mendorong munculnya
konflik adalah perbedaan karakter. Tetapi perbedaan karakter ini hanya sebatas
pendorong munculnya konflik. Dalam kehidupan nyata terdapat beragam karakter
tapi toh tidak selalu melahirkan konflik. Perbedaan karakter itu baru bisa
melahirkan konflik jika tokoh cerita satu dengan tokoh lainnya terdapat
pertentangan kepentingan, pertentangan kemauan, pertentangan harapan,
pertentangan sikap, dll.
Karena
dalam sebuah karangan fiksi berisi banyak tokoh dengan bermacam-ragam karakter,
maka pengarang harus dapat membuat sebuah identifikasi tokoh cerita yang detil.
Identifikasi tokoh cerita yang detil ini akan memudahkan pembaca dalam
menelusuri cerita dalam karangan. Identifikasi tokoh cerita beserta karakternya
berupa:
[1]. Nama : Ini yang
paling umum dan pertama ditempuh pengarang dalam memberi identifikasi tokoh
cerita.
[2]. Ciri visual dan
suara : Pengarang mengidentifikasikan tokoh ceritanya melalui citra visual dan
suara yang berupa bentuk tubuhnya, jenis suaranya, dst.
[3]. Ciri sikap : Ciri
ini menunjuk pada karakter. Ciri ini meliputi respon-respon tokoh terhadap tokoh
lain, keinginan, cita-cita, dst.
[4]. Ciri laku dan cakap
: Pengarang dalam menggambarkan identitas tokoh cerita beserta karakternya dapat
menggunakan citra laku dan cakap. Misalnya, seorang yang pemberani biasanya
berjalan dengan muka menatap ke lurus ke depan, dengan pancaran mata yang tak
ragu-ragu. Atau melukiskan tokoh cerita yang tak sopan dengan menunjukkan
kebiasaan si tokoh berbicara dengan teriak dan tawa ngakak.
Sedangkan cara ungkap identifikasi tersebut
bisa dilakukan pengarang dengan :
[1]. Langsung; yakni
menuliskan bahwa si tokoh adalah seorang penyabar, pemberani, dst.
[2]. Tidak langsung;
yakni melalui (komentar) tokoh lain bahwa si tokoh seorang tak sopan, pemalu,
dst.
◙
SETTING
WAKTU, SETTING TEMPAT,
DAN
MENGGABUNGKAN KEDUANYA.
Sebuah kejadian selalu ada dalam bingkai waktu
dan tempat. Begitu juga dengan cerita dalam karangan fiksi. Penanda waktu dan
tempat dalam karangan fiksi dikenal dengan istilah ‘setting waktu’ dan
‘setting tempat’.
Dalam menjelaskan ‘kapan terjadinya cerita’
pengarang bisa langsung menyebut ‘setting waktu’.
Contoh
: Minggu pagi aku bertemu dengannya.
Tak seperti dua hari sebelumnya, Jumat
sore, ia melemparkan senyum padaku. Sebentuk senyum yang belum pernah kulihat
selama hidupku; seulas senyum yang amat indah.
Dalam
mengungkapkan penanda waktu, pengarang pun bisa secara tidak langsung. Misalnya
dengan frasa: debu beterbangan. “debu beterbangan” menjadi petunjuk bahwa
cerita terjadi pada saat kemarau. Atau bisa pula dengan kalimat: hujan tak mau
henti sejak tadi pagi. Ini artinya cerita terjadi pada saat musim penghujan.
Pengarang
tak hanya berkesempatan mengungkapkan satu ‘setting waktu’ tapi bisa juga
mengungkapkan dua ‘setting waktu’ sekaligus dalam satu kalimat.
Contoh
1 : Ini adalah kejadian memalukan yang kudapatkan di hari pertama masuk kelas.
(‘hari pertama masuk kelas’ bisa berarti ‘hari senin’).
Contoh
2 : Sewaktu lapar kau tak suka tertawa seperti ini. (‘kalau lapar tak suka
tertawa’ menunjuk pada waktu lain. Sementara ‘tertawa seperti ini’
menunjukkan bahwa kau saat ini sedang
tertawa).
Sama
halnya dengan cara ungkap ‘setting waktu’, setting tempat bisa ditunjukkan
secara langsung dan tak langsung. Cara ungkap secara langsung bisa dilakukan
dengan menyebut tempat, menyebut nama kota, dst. Sementara cara ungkap yang tak
langsung bisa dengan menyebut julukan tempat, simbol-simbol kota, dst.
Contoh
1 : Pinggiran jalan kota Solo ramai
oleh pedagang kaki lama.
Contoh
2 : Aku duduk terkantuk di kursi panjang dari besi yang catnya mengelupas,
sementara hirukpikuk kendaraan tak juga reda di depanku. (‘kursi panjang dari
besi’ yang ada di tepi jalan ramai menunjukkan pada pembaca bahwa “aku”
tengah berada di halte).
Umumnya,
pengarang membuat sebuah paragraf berisi kalimat-kalimat yang hanya menunjukkan
‘setting waktu’ atau ‘setting tempat’ saja. Padahal, pengarang pun dapat
menggabungkan ‘setting tempat’ dan ‘setting waktu’ bahkan dalam satu
kalimat pendek.
Contoh
: Kota bengawan bangkit dari
tidur. (‘kota bengawan’ menunjuk pada kota Solo, sementara ‘bangkit dari
tidur’ artinya pagi hari. Kalimat ini bisa menjadi awal untuk menuliskan
geliat kota Solo di kala pagi).
◙
Jika
bab-bab sebelumnya membahas hal-hal mengenai teknik mengarang (daya, alur, dst)
dan juga jiwa atau isi dalam karangan (tema, plot, dst), maka pada bab ini kita
coba kupas masalah ‘gaya’ dalam karangan fiksi.
Beberapa
hal yang kita sebut setelah ini masuk dalam lingkup ‘gaya’ karena hal-hal
ini lebih pada pilihan pengarang. Yakni:
[1]. Gaya pandang
penceritaan.
Secara
umum dalam dunia karang-mengarang fiksi pengarang dihadapkan pada dua pilihan
gaya pandang penceritaan: ‘gaya aku’, dan ‘gaya narator’. Karangan yang
menggunakan ‘gaya aku’ tokoh utamanya atau menjadi pencerita. Tokoh
sampingan bisa pula menjadi pencerita bagi tokoh utama.
Jika
menggunakan gaya ini, secara logis, pengarang hanya dapat menceritakan
kejadian-kejadian yang langsung dialami tokoh pencerita, atau yang ia dengar
dari tokoh lainnya. Sementara pada ‘gaya narator’, pengarang bertindak
sebagai pencerita yang mutlak mengetahui segala kejadian yang dialami tiap tokoh
dalam karangan fiksi.
[2]. Gaya plot.
Secara
sederhana, ada dua macam ‘gaya plot’. Dua gaya ini diletakkan di bagian
akhir dalam karangan fiksi. Yakni: ‘gaya plot buntu’, dan ‘gaya plot tak
buntu’. Karangan fiksi yang menggunakan ‘gaya plot buntu’ tak memberi
kesempatan bagi pembaca membayangkan kemungkinan-kemungkinan cerita selanjutnya
setelah karangan fiksi selesai. Sedangkan ‘gaya plot tak buntu’ memberi
kesempatan bagi pembaca untuk membayangkan cerita selanjutnya setelah karangan
fiksi selesai.
[3]. Gaya tempo cerita.
Tempo
cerita menjadi pilihan bagi pengarang. Cepat atau lambatnya jalan cerita
disesuaikan dengan jiwa karangan sendiri, dan juga karakter tokoh-tokoh di
dalamnya, serta persepsi estetika pengarang. Misalnya, menceritakan orang-orang
kota dengan seribu kesibukannya tentu akan lebih pas jika menggunakan tempo
cerita yang cepat, dst.
[4]. Gaya bahasa.
Bahasa
menjadi sangat penting untuk diperhatikan pengarang. Karena bahasa-lah yang
menjadi jembatan komunikasi pengarang dan pembaca agar isi karangan dan segala
maksud pengarang bisa sampai pada pembaca. Gaya ini pun menjadi pilihan bagi
pengarang; apakah ingin menggunakan gaya puitika, gaya realis klasik, dst.
[5]. Gaya aliran.
Aliran
dalam karangan fiksi secara garis-besar terbagi dalam: aliran realis, aliran
surealis, aliran absurd, dan aliran baru (nouveau roman). Bab-bab dalam artikel
‘Mengarang (Teknik Awal)’ ini dimaksudkan untuk teknik mengarang aliran
realis. Aliran surealis, aliran absurd, dan aliran baru akan dibahas dalam
artikel ‘Mengarang (Teknik Lanjutan)’.
◙
DAYA
FIKSI, KESAN PEMBACA,
DAN
PENGARUH FIKSI TERHADAP PEMBACA.
Sebuah karangan fiksi
harus memiliki daya. Agar dalam batin dan pikiran pembaca terbentuk kesan-kesan
tertentu. Kesan-kesan itu mungkin bisa sangat samar, atau sebaliknya. Bisa
sangat lama tinggal berada dalam hati dan kepala pembaca, atau sebaliknya. Tapi
yang pasti, kesan-kesan itulah yang akan mempengaruhi pembaca.
Daya fiksi membuat
pembaca ingin melanjutkan membaca karangan sejak paragraf pertama, bahkan seusai
kalimat pertama selesai dibaca. Daya ini pula yang nantinya dapat membuat
pembaca memiliki kesan-kesan tertentu, baik setelah fiksi berakhir pun di saat
fiksi belum sampai pada ending.
Kesan-kesan pembaca terhadap karangan bisa berupa tercapainya rasa:
gembira-riang, sedih-tragis, trenyuh, terinspirasi, takut-horor, atau bisa juga
deg-degan selama pembaca menikmati karangan, dst.
Daya yang harus dipenuhi pengarang dalam fiksi
adalah: [1]. Daya pikat, [2]. Daya rangsang, [3]. Daya tanya, [4]. Daya libat,
[5]. Daya kejut. [6]. Daya guna.
Idealnya,
sebuah karangan fiksi memiliki 6 (enam) daya tersebut. Meskipun memang banyak
karangan fiksi yang diakui sebagai karya bagus tidak memiliki keenam daya
sekaligus. Ini adalah pilihan dari pengarang. Ini adalah seberapa piawainya
pengarang membuat cerita yang sederhana menjadi sebuah cerita yang menarik.
Beberapa contoh tentang penggunaan daya fiksi bisa kita bicarakan pada sesi
pembahasan.
Sekarang
coba kita kupas keenam daya fiksi. Penomoran daya di bawah ini tidak untuk
menunjukkan urutan pemakaian daya dalam sebuah karangan fiksi.
[1]. Daya pikat.
Pertama kali yang dibaca pembaca adalah judul.
Dalam sebuah karangan fiksi, judul memiliki kekuatan tersendiri. Untuk itu,
pengarang mesti pandai dan jeli membuat judul. Judul haruslah relevan (sesuai
dengan isi fiksi), provokatif, mudah diingat, dan mengajak orang mengira-ira
seberapa bagus isi fiksi.
Contoh: Kening
Seorang Pelacur. Ini adalah pilihan judul yang menarik, jika dibanding
dengan Kening, meskipun judul Kening
relevan pula dengan isi fiksinya. Pilihan judul yang pertama akan membuat
pembaca bertanya “ada apa dengan kening seorang pelacur?” atau “apakah
kening pelacur dalam cerita ini beda dengan kening pelacur lainnya?” atau
“apa beda kening seorang pelacur dengan kening seorang pelajar?”. Sementara
pilihan judul yang kedua kurang memberi kesempatan pada pembaca untuk
menebak-nebak.
[2]. Daya rangsang.
Pengarang harus pandai mengkondisikan pembaca
untuk tetap membaca. Ini mesti dilakukan pengarang sejak paragraf pertama,
bahkan sejak kalimat awal. Daya ini erat sekali dengan imajinasi yang terbentuk
dalam kepala pembaca setelah judul dan bagian pertama karangan fiksi dibaca.
Ada
banyak cara pengarang merangsang imajinasi pembaca di bagian pertama karangan
fiksi. Misalnya, dengan melukiskan dulu seting tempat cerita yang unik.
Contoh:
Pintu rumah tua yang
diapit dua jendela itu seperti susunan hidung dan mata. Hidung dan mata milik
seorang lelaki tua yang menyeramkan. Dinding di sekitar pintu dan jendela tampak
mengelupas, ada sayatan-sayatan tegas di sana. Seperti keriput di wajah pemilik
rumah. Jika malam tiba, dan lampu menerobos korden jendela, dua jendela itu
seperti tengah memelototi siapapun yang lewat di depan rumah…
Selain itu, pengarang bisa pula menggabungkan
daya rangsang ini dengan penggunaan plot. Itu artinya, di bagian pertama
karangan fiksi, pengarang tiba-tiba menempatkan sebuah kejadian, atau akhir
kejadian yang heboh.
Contoh:
“Kau membunuh pengemis itu?!”
[3]. Daya tanya.
Daya ini bisa diusahakan atau diletakkan oleh
pengarang di bagian mana saja dari karangan fiksi, agar pembaca ingin terus
membaca dan mencari jawaban dari teka-teki cerita. Cerita-cerita detektif
seringkali menggunakan daya ini di hampir semua bagian cerita, dari awal hingga
menjelang akhir cerita.
[4]. Daya libat.
Daya ini digunakan pengarang untuk membuat
pembaca hanyut ke dalam cerita; seolah-olah pembaca menjadi tokoh cerita dan
terlibat dalam kejadian-kejadian yang dialami tokoh cerita. Daya ini digunakan
pengarang untuk membuat pembaca dalam kondisi: ber-simpati, ber-antipati,
ataupun ber-empati.
[5]. Daya kejut.
Pengarang menggunakan
daya ini agar pembaca memberi kesan-kesan tertentu yang lebih nyata. Misalnya,
dengan menguasai daya kejut, pengarang bisa membelokkan jalan cerita dengan
logis. Daya kejut ini bisa berdampak macam-macam kepada pembaca. Ada pembaca
yang merasa tersentak, merasa tebakannya keliru, karena jalan cerita dalam
karangan fiksi yang dibaca ternyata beda dengan jalan cerita yang dibayangkan.
Jadi, tak aneh bila ada pembaca yang setelah membaca karangan fiksi berteriak:
“Walah, ternyata begini!”, atau “Malahan dia yang membunuh?!”.
Daya
ini pun bisa menimbulkan respon pembaca yang nyata dalam artian fisik. Misalkan
pada cerita-cerita horor. Seringkali cerita horor membuat bulu kuduk pembaca
berdiri, merasa tercekam, dst.
[6]. Daya guna.
Karangan
fiksi bisa menjadi sebuah ajakan, bisa membuat pembaca memiliki pemahaman baru
yang lebih baik tentang sesuatu. Dan bisa pula menjadi obat, karena banyak orang
yang putus-asa menjadi ‘bangkit’ kembali setelah membaca karangan fiksi. Ini
suatu misal.
Bagaimanapun, pengarang harus menyadari
kegunaan dari karangan yang ditulisnya, bagi pembaca. Daya guna ini muncul
bersamaan dengan munculnya ide atau gagasan cerita dalam kepala pengarang.
Sebagai
contoh mudahnya, jika menulis kisah tentang penderitaan para pengungsi korban
bencana alam, pengarang hendaknya tak hanya mengarang fiksi yang membuat pembaca
menangis dan sedih. Lebih dari itu, dengan karangannya, pengarang hendaknya bisa
menggerakkan hati pembaca untuk turut meringankan penderitaan pengungsi.
◙
Sebuah karangan fiksi tak bisa lepas dari
dunia luar. Tokoh-tokoh ceritanya tentu terlibat dan terpengaruh dengan keadaan
sosial, dengan ‘setting tempat’, dengan ‘setting waktu’, dll. Cerita
yang terjadi dalam karangan fiksi pun terpengaruh pula oleh ‘setting tempat’,
oleh ‘setting waktu’, oleh kondisi psikologis tokoh-tokohnya, dll.
Ini adalah konsekwensi logis dalam karangan
fiksi. Konsekwensi logis ini meliputi ‘konsekwensi sosiologis’, dan
‘konsekwensi psikologis’. Misalnya, menjadi tak masuk akal bila seorang
pengarang menceritakan pertemuan dua orang muda-mudi yang sama-sama lahir dan
besar di Solo dan menuliskan percakapan mereka dengan menggunakan kata ‘gue’
(kata ganti aku) dan ‘lu’ (kata ganti kamu), meskipun saat bercakap keduanya
ada di Jakarta.
Pengarang
harus memiliki pengetahuan yang cukup, dan memiliki bahan-bahan yang lengkap
untuk menuliskan sebuah karangan fiksi. Pengetahuan dan bahan-bahan inilah yang
akan membuat karangan menjadi logis, dan bisa diterima oleh pembaca.
Untuk
mendapatkan bahan-bahan tersebut pengarang bisa melakukan observasi, mengamati
secara langsung, atau mencari tahu dari buku.
◙
·
Pengarang
harus selalu jeli menghadapi segala hal yang ada di hadapannya. Selalu merenung.
Selalu mengamati. Selalu mencoba berpikir dengan sisi pandang lain.
·
Pengarang
yang bersedia mengingat kembali masa lalu ~sepahit apapun itu~ dan bersedia
membayangkan masa depan ~sesuram apapun itu~ akan lebih berpotensi melahirkan
karya-karya yang bagus.
·
Karangan
fiksi yang bagus berisi tokoh-tokoh cerita dengan beragam karakter yang jelas (dan
unik). Namun karena karangan fiksi adalah rentetan kejadian yang bermakna, maka
hendaklah pengarang mampu memperkembangkan karakter tokoh-tokoh ceritanya dengan
logis.
·
Karena
karangan fiksi berupa rentetan kejadian / cerita yang tak lepas pula dari
sebab-akibat dengan penggunaan daya-daya fiksi, maka hendaklah pengarang
mendesain dasar plot agar nantinya karangan fiksi menjadi me-liku dan me-liuk.
·
Karangan
fiksi yang bagus adalah karangan yang ketika kita membaca seolah-olah kita
tengah mengikuti adegan demi adegan sebuah film yang ditembakkan ke layar, dan
layar itu ada dalam kepala kita. Maka, hendaklah setiap adegan memiliki makna
dan tak percuma, meskipun sekilas terlihat sebagai adegan yang sederhana.
·
Karena
karangan fiksi memiliki bahan dasar imajinasi (khayali), maka hendaklah isi di
dalamnya dibuat sedemikian me-liku dan me-liuk namun tetap logis, serta
memanfaatkan keenam daya fiksi di atas.
·
Karangan
fiksi ditulis untuk menimbulkan kesan-kesan tertentu dan memberi pengaruh baik
pada pembaca. Agar kesan-kesan itu mengendap lama dalam batin dan pikiran
pembaca, maka hendaklah pengarang membuat: judul yang memikat, isi yang mengikat,
dan makna yang menjerat.
◙
Disusun
oleh Ciu Cahyono